You are here: Informasi

3 Tips untuk kuliah sambil bekerja

Tips untuk kuliah sambil bekerja


Kuliah ke luar negeri tanpa dibiayai oleh beasiswa bisa saja sangat berat. Oleh karena itu ada baiknya Anda membuat anggaran keuangan dengan seksama sebelum memutuskan untuk kuliah ke luar negeri. Untuk meringankan beban biaya, Anda bisa mempertimbangkan untuk kuliah sambil bekerja.

Yang menjadi pertimbangan adalah apakah pekerjaan paruh waktu akan mengganggu kuliah Anda. Sebenarnya tidak akan menjadi masalah jika Anda bisa membagi waktu dengan baik dan bersedia untuk bekerja keras. Keuntungan dari kerja paruh waktu selain meringankan biaya adalah, Anda bisa mengasah kemampuan berbahasa Inggris Anda. Kemudian Anda juga memiliki kesempatan bagus untuk berbaur dengan masyarakat setempat. Apalagi jika Anda berkesempatan untuk magang di kantor, pengalaman kerja ini tentunya akan menambah nilai plus di saat Anda mencari kerja setelah lulus kuliah nanti.

Memang ada kasus di Amerika dimana mahasiswa asing mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari majikan mereka. Sebenarnya mahasiswa lokal juga bisa mengalami hal yang sama. Yang menjadi penyebab disini adalah kurangnya informasi mengenai tempat kerja dan halangan dalam kelancaran berbahasa. Selama Anda memilih majikan dengan teliti, Anda bisa meminimalkan kejadian yang tidak diinginkan.

Sebelum memulai kerja paruh waktu, lakukanlah hal-hal sebagai berikut:

Periksalah visa Anda

Visa-visa dengan kategori tertentu – seperti visa Tier 4 di Inggris – tidak mengijinkan mahasiswa asing untuk bekerja. Visa lain bisa saja mengijinkan mahasiswa asing untuk bekerja, tetapi dengan batasan waktu tertentu. Misalnya di Selandia Baru, mahasiswa asing tidak diperbolehkan untuk bekerja lebih dari 20 jam perminggu. Jika Anda melanggar peraturan tersebut, Anda bisa diminta untuk segera meninggalkan negara tersebut. Jadi, sebelum memulai kerja paruh waktu, periksalah batasan-batasan visa Anda.

Bertanyalah pada mahasiswa asing lainnya

Anda bisa menanyakan pada para mahasiswa asing yang bekerja paruh waktu, mungkin di tempat kerja mereka ada lowongan, atau Anda bisa mencari informasi mengenai reputasi majikan atau tempat kerja yang lebih bersahabat terhadap mahasiswa asing.

Berkonsultasi dengan pihak universitas

Biasanya universitas memberikan layanan konseling mengenai kerja paruh waktu. Mereka bahkan mempunyai koneksi dengan perusahaan-perusahaan lokal. Dengan begitu, Anda berkesempatan mendapatkan pekerjaan yang lebih terjamin dan sesuai dengan bidang studi Anda.

 

Sumber: http://www.hotcourses.co.id/study-abroad-info/student-life/3-tips-untuk-kuliah-sambil-bekerja/

Para Wisudawan: Pilih Bekerja atau Melanjutkan Studi S2?

Para Wisudawan: Pilih Bekerja atau Melanjutkan Studi S2?


Buat para mahasiswa yang sedang menempuh studi kuliah di semester akhir, barangkali Anda sudah mulai berpikir tentang pilihan-pilihan yang bisa diambil setelah wisuda. Bisa jadi ada banyak pilihan yang terlintas di benak Anda. Sebenarnya jika diklasifikasikan, pilihan itu ada dua: melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau bekerja (termasuk di dalamnya berwirausaha).

Ada baiknya pilihan itu telah diputuskan jauh hari sebelum Anda mengenakan toga. Lalu bagaimana supaya Anda tidak bingung dengan pilihan “Kuliah atau bekerja”? Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan. Jika sesuai, silakan diaplikasikan. Tetapi jika Anda tidak berkenan, ya silakan juga. Beberapa hal di bawah ini saya uraikan berdasarkan pengalaman pribadi.

1. Rencanakan Kapan Anda Akan Menyelesaikan Skripsi

Punya impian melanjutkan studi S2 di luar negeri atau bekerja di perusahaan terkemuka, tetapi jika belum selesai kuliah, sama saja bohong, kan? Berdasarkan pengamatan saya, masa-masa pengerjaan skripsi sering membuat mahasiswa terlena. Terlena karena sudah tidak ada lagi mata kuliah teori. Terlena dengan waktu yang semakin bebas. Yakinlah, masalah pada mayoritas mahasiswa yang terlalu lama dalam pengerjaan skripsi (lebih dari 4 semester) bukan terletak pada sulitnya merumuskan masalah secara ilmiah. Masalah utamanya itu justru karena nyaris kehilangan motivasi, orientasi, dan juga semangat.

Jadi, Anda harus merancang rencana pengerjaan skripsi secara teratur dan kurangilah aktivitas yang tidak terlalu penting. Kalau mau skripsi yang extra ordinary, perbanyaklah Anda waktu untuk studi pustaka atau studi lapangan. Bersantai itu bisa dilakukan kapan saja. Tapi mengerjakan skripsi tidak mungkin dilakukan seumur hidup kan? Kalau perlu, umumkan kepada orang lain mengenai target skripsi Anda. Karena jika tidak tercapai, bisa jadi Anda akan malu kan?


Rencana pengerjaan skripsi yang pernah saya buat (sumber gambar: dokumentasi pribadi)

2. Diskusi dengan Orang-Orang Terdekat

Anda bingung dalam menentukan pilihan? Bisa jadi disebabkan cara pandang atau perspektif Anda yang masih belum beragam. Ajaklah orangtua, sahabat, atau bahkan dosen Anda untuk berdiskusi mengenai rencana di masa depan. Dengar dan terima saran-saran dari mereka. Masalah apakah saran tersebut Anda lakukan atau tidak, hak itu ada di tangan Anda sendiri. Hal terpenting adalah Anda bisa memiliki variasi perspektif dalam menentukan pilihan.

3. Mencari Informasi Studi S2 Atau Informasi Lowongan Pekerjaan Sedini Mungkin

Jika Anda misalnya merencanakan lulus skripsi pada bulan Desember, maka mulailah mencari informasi studi mengenai S2 atau informasi pekerjaan paling tidak enam hingga tiga bulan sebelum Desember. Buatlah satu folder khusus di dalam komputer Anda yang berisi tentang lowongan pekerjaan atau informasi studi S2. Yakinlah, kelak folder ini akan sangat berguna. Sebenarnya sah-sah saja jika Anda baru mencari informasi tersebut setelah lulus kuliah. Namun Anda akan kehilangan banyak waktu. Jadi kalau bisa, minimalkanlah waktu menganggur setelah wisuda.

4. Belajar Berwirausaha

Selain bekerja dengan orang lain atau melanjutkan studi S2, Anda bisa memilih untuk menjadi wirausahawan. Saya sendiri bukan seorang wirausahawan (meskipun saya punya niat untuk menjadi wirausahawan), jadi saya tidak bisa menjabarkan berdasarkan pengalam pribadi. Tetapi banyak teman yang saya kenal sudah berlatih wirausaha sejak kuliah. Bentuk usahanya beraneka ragam. Ada yang berjualan pulsa, jasa fotografi, penyewaan komputer dan internet, hingga usaha pembuatan kue.

Berdasarkan hal yang saya dapatkan dari teman-teman yang berwirausaha, kebanyakan dari mereka melakukan bisnis yang berawal dari hobi. Atau bisa jadi bidang usaha tersebut terkait dengan studi yang sedang Anda jalani. Misalnya, Anda yang menggeluti bidang sistem informasi bisa menawarkan jasa perancangan sistem informasi dan jaringan. Atau Anda yang dari bidang psikologi bisa menawarkan program pelatihan dan pengembangan. Intinya, lakukan hal yang Anda sukai dan cintailah hal yang sedang Anda kerjakan.

Sampai pada tahap ini, saya akan menceritakan beberapa pernak-pernik mengenai dunia kerja. Saya memang memilih masuk dahulu ke dunia kerja baru kemudian akan melanjutkan studi profesi S2.

1. Kenali Perusahaan yang Akan Anda Lamar

Jika Anda berniat memasukkan lamaran ke sebuah perusahaan, carilah informasi sebanyak-banyaknya mengenai profil perusahaan tersebut. Cari info tentang budaya kerja mereka. Ketika sampai dipanggil ke tahap wawancara dan ditanyakan mengenai hal apa saja yang Anda pahami mengenai perusahaan tersebut, Anda bisa menjelaskan dengan baik. Hal ini jauh lebih baik daripada Anda tidak tahu apa-apa tentang perusahaan tersebut. Dari banyak pelamar kerja yang pernah saya wawancarai, mayoritas dari mereka tidak tahu mengenai profil perusahaan yang mereka lamar. Mereka juga tidak punya gambaran tentang karirnya di masa depan. Sebaiknya, ungkapkan harapan Anda terhadap karir di masa depan. Hal tersebut akan sangat berguna untuk melihat visi Anda terhadap masa depan. Tentu saja semua hal tersebut harus Anda sampaikan dengan bahasa yang baik.

Jika niat Anda bekerja hanya sebagai batu loncatan, carilah perusahaan yang tidak mengenakan sistem penalti. Sistem penalti berarti jika Anda keluar sebelum masa kontrak habis, Anda akan dikenakan sejumlah denda oleh perusahaan. Cara ini juga bisa dilakukan bagi Anda yang masih ingin melanjutkan studi S2 selepas bekerja sekitar satu atau dua tahun.

2. Pilih Perusahaan Berkembang atau Perusahaan yang Sudah Mapan?

Ada pepatah mengatakan bahwa lebih baik menjadi kepala semut daripada menjadi ekor gajah. Kalau Anda termasuk orang yang senang inovasi dan pembelajar, pilihlah perusahaan yang sedang berkembang dan punya budaya kreatif. Budaya kreatif ini tidak hanya dimiliki oleh industri kreatif saja. Salah satu ciri dari sebuah perusahaan yang memiliki budaya kreatif adalah sistem yang memberikan ruang inovasi bagi karyawan. Selain itu budaya pemimpin yang mau mendengarkan, menerima, dan melaksanakan solusi dari bawahan juga menjadi salah satu indikator perusahaan yang kreatif dan punya visi untuk berkembang. Perusahaan berkembang yang seperti ini biasanya mengizinkan karyawannya untuk “memangkas” sistem baku di perusahaan. Artinya, jika karyawan punya cara kerja yang lebih efektif (tepat sasaran) dan efisien (hemat waktu), metode tersebut bisa saja diterapkan pada sistem perusahaan secara keseluruhan.

Ingat, kenalilah baik-baik perusahaan yang akan Anda lamar. Jangan tergiur hanya karena perusahaan tersebut sudah memiliki nama besar atau kompensasi yang besar. Anda harus punya target pengembangan diri. Jika Anda tidak bisa mengembangkan diri di dalam dunia kerja, maka hal tersebut akan berimbas pada sikap profesional dalam bekerja. Jadi, silakan Anda memilih apakah akan bekerja atau melanjutkan studi ya. Saran saya, dengarkanlah lagu dari Nugie yang berjudul “Lentera Jiwa”. Ini penggalan bait lagunya:

Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati Yang slalu membunyikan cinta Kupercaya dan kuyakini murninya nurani Menjadi penunjuk jalanku Lentera jiwaku

Sumber: http://www.kompasiana.com/yudikurniawan/para-wisudawan-pilih-bekerja-atau-melanjutkan-studi-s2_5519c298a33311151bb6594a

Oleh: Yudi Kurniawan

Berpikir Strategis: Cara Jitu Meraih Cita-cita

Berpikir Strategis: Cara Jitu Meraih Cita-cita

Pada dasarnya, langkah-langkah untuk meraih cita-cita itu sama semuanya, apa pun cita-citanya. Langkah pertama, kamu harus tahu apakah kamu sudah memiliki semua kriteria yang diminta. Langkah ke dua, dari semua orang yang memiliki kriteria yang diminta, kamu harus menjadi orang terbaik untuk menduduki posisi yang kamu cita-citakan itu.

Misalnya, untuk mendapatkan pacar: kamu harus tahu apakah kamu sudah memenuhi semua kriteria dari “tipe calon pacar idaman” si dia yang kamu incar, dan dari semua orang yang memenuhi kriteria, apakah kamu memiliki nilai plus (lebih humoris, rumah kamu lebih dekat dengan si dia diantara kandidat yang lain atau mungkin diantara semua yang mengincar si dia, kamu yang tidak bau badan). Hal ini juga berlaku untuk cita-cita yang lebih serius, seperti, mencari pekerjaan, naik jabatan, agar perusahaan yang kamu dirikan berhasil bersaing dengan merk lainnya, mencari beasiswa ke luar negeri, dan lain-lain. Sekarang, coba kamu tuliskan dulu tiga hal ini: 1.) apakah cita-citamu? 2.) apa saja kriteria yang diperlukan untuk menggapai cita-cita ini, dan apa saja yang sudah kamu miliki? 3.) apa keunggulanmu yang membuatmu lebih baik dari pesaingmu yang memiliki cita-cita yang sama? Jika belum ada, apa yang bisa kamu lakukan untuk mengasah keunggulanmu?

Untuk menggapai semua cita-cita hidup ini, seorang konsultan bisnis handal, Erika Andersen, mengatakan bahwa kuncinya hanya satu: Strategical Thinking. Dalam bukunya, Being Strategic, Andersen (2010) mendefinisikan orang yang berpikir strategis sebagai orang yang “secara konsisten mengambil pilihan yang akan membawanya lebih dekat dengan target yang diharapkan”. Jadi, kalau kamu bercita-cita mendapatkan beasiswa, maka kamu bukan orang yang berpikir strategis jika tiap hari kamu lebih banyak bermain daripada belajar.

Masih di buku yang sama, Andersen (2010) menjabarkan langkah-langkah konkrit dalam membuat strategi dalam mengejar impianmu. Ini dia langkah-langkahnya:

Definisikan cita-citamu dengan baik. Langkah ini harus kamu ambil jika kamu masih belum tahu apa cita-citamu atau apa langkah konkrit yang harus dilakukan untuk mencapai cita-citamu. Ada tiga cara untuk mendefinisikan cita-cita dengan baik. Cara pertama adalah untuk mereka yang belum mengetahui apa cita-citamu: tanyakan pada dirimu apa yang kamu ingin dapatkan dan bagaimana cara mendapatkannya. Contohnya: kamu ingin namamu dikenal banyak orang, dan setelah melihat bakatmu adalah menulis, maka kamu memutuskan untuk menjadi penulis yang baik.

Cara kedua adalah bagi kamu yang sudah tahu cita-citamu (target), tapi belum mengetahui langkah konkritnya, yaitu: dengan memeriksa elemen apa yang belum bekerja dalam usahamu mencapai cita-cita. Misalnya, kamu adalah kepala dari departemen sales yang belum mencapai target penjualan di tahun ini. Sebelum membuat strategi apa-apa, ada baiknya kamu mencoba melihat apa yang salah dari proses kerjamu selama ini. Apakah kesalahan terletak pada tim sales-mu yang kurang ramah? Atau mungkin penyebaran informasi produk yang kurang luas? Atau jangan-jangan ada kekurangan pada produk yang kamu jual sehingga konsumen tidak merekomendasikannya ke teman mereka?

Setelah kamu memilih salah satu cara di atas, tutuplah pendefinisian cita-citamu dengan pertanyaan ini: seperti apakah rasanya saat saya sukses? Pertanyaan ini akan membuatmu fokus ke satu arah tertentu. Contohnya, jika seorang dokter mendefinisikan sukses sebagai “memiliki banyak uang”, maka langkah yang akan dia rencanakan adalah mencari rumah sakit terkenal untuk berpraktek. Tapi jika definisi sukses dokter tersebut adalah “membantu sebanyak-banyaknya orang yang tidak mampu”, maka salah satu langkah menuju kesuksesan adalah dengan me-riset daerah yang masih tertinggal dan membutuhkan tenaga medis.

Seperti apa situasi yang kamu hadapi saat ini? Langkah berikutnya adalah melihat apa “modal” yang kamu miliki saat ini. Dengan mengetahui kekuatan dan kekuranganmu, kamu bisa tahu “modal” apa yang bisa kamu andalkan dan pada bagian mana kamu harus melakukan perbaikan. Caranya, tuliskan sebanyak-banyaknya kekuatan dan kelemahanmu yang berhubungan dengan definisi suksesmu. Pada bagian kelemahanmu, berikan catatan bagaimana cara untuk melakukan perbaikan. Langkah ini cukup mudah tapi harus dilakukan dengan hati-hati. Ingatlah terus untuk tidak mencatat hal yang tidak terlalu berhubungan dengan cita-citamu, misalnya, tidak akrabnya kamu dengan atasan sebagai “kelemahan” dalam mengejar cita-cita untuk naik jabatan. Jika terlalu fokus kepada hal yang tidak terlalu berhubungan seperti ini, hal-hal yang lebih krusial seperti, kurang mampunya kamu berbicara di depan umum, manajemen waktu yang masih berantakan dan kelemahan lain yang berhubungan dengan skill-mu justru akan kamu lewatkan.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan saat membuat daftar SWOT (strength, weaknesses, opportunity dan threat). Pertama, kamu harus melakukannya dengan objektif. Maksudnya, banyak orang yang melewatkan fakta-fakta yang tak dia sukai mengenai dirinya karena membuat dia tidak nyaman. Untuk jangka pendek, penyangkalan ini akan membuat hidup lebih mudah. Tapi untuk jangka panjangnya, justru penyangkalan ini akan merugikan karena kita tidak berkesempatan untuk memperbaiki diri.

Kedua, sering-seringlah mengubah perspektifmu dalam membuat SWOT untuk mendapatkan insight yang beragam. Misalnya, kekuatanmu dalam public speaking mungkin akan dipersepsi sebagai kesombongan oleh orang lain jika terlalu kamu umbar. Ketiga, utamakan kekuatan dan kelemahan yang lebih berpengaruh dengan cita-citamu. Contohnya pada saat kamu ingin mendapatkan nilai yang baik di sekolah, daripada fokus pada kelemahanmu yang tidak terlalu berpengaruh seperti tidak punya pacar untuk memotivasimu, lebih baik kamu mengutamakan untuk menghadapi kelemahanmu dalam memahami suatu teori yang diajarkan.

Langkah ketiga adalah menentukan target. Setelah mendefinisikan cita-citamu dan melihat situasimu saat ini, akan terlihatlah jarak antara posisimu saat ini dan kesuksesan di masa depan. Karena itu, kamu harus mulai menentukan target-target untuk mencapai kesuksesan. Contohnya, untuk menjadi psikolog handal, kamu harus masuk ke universitas yang baik, lulus program sarjana psikologi, lulus program profesi psikologi, mengasah kemampuan dengan bergabung dengan lembaga psikologi dan seterusnya. Tentukan juga waktu yang kamu berikan bagi dirimu untuk mengejar target tersebut.

Ada dua hal yang harus kamu perhatikan pada fase ini. Yang pertama adalah, bagaimana realita yang memengaruhimu dalam mengejar target. Contohnya, apakah kamu memiliki uang untuk mengikuti program profesi psikolog setelah lulus sarjana? Jika belum, maka kamu harus memasukkan target “menabung untuk kuliah program profesi psikolog” pada titik setelah lulus sarjana. Yang kedua adalah, jangan sampai target yang kamu buat terlalu mudah, karena pergerakanmu mengejar cita-cita akan menjadi sangat lambat.

Langkah berikutnya adalah membuat list penghalang cita-citamu. Langkah ini mungkin terasa seperti pengulangan pada saat kamu membuat daftar kelemahanmu. Tapi, selain kelemahanmu, ada banyak penghalang lain yang sifatnya eksternal, seperti kondisi finansial, kualitas dari lembaga yang akan membantumu mengejar cita-cita, kondisi persaingan di lapangan dan lain-lain. Dengan membuat gambaran lengkap penghalang, kamu bisa memprioritaskan mana hal yang harus kamu dahulukan dan mana yang bisa diselesaikan nanti saja.

Sekarang, setelah kamu menentukan target, mengetahui kelebihan dan kekuranganmu, kamu bisa mulai untuk membuat rencana “perjalanan”-mu dalam mengejar cita-cita. Sesuai dengan peribahasa “banyak jalan menuju Roma”, kamu juga harus membuat banyak alternatif untuk mengejar target.

Misalnya, jika kamu ingin menyelesaikan program master (S2) tetapi memiliki penghalang keterbatasan finansial, kamu bisa membuat beberapa “rencana perjalanan”: mencari beasiswa, bekerja dulu sebelum melanjutkan sekolah atau bekerja sambil sekolah. Dengan berdasarkan pada data yang kamu buat pada langkah sebelumnya, niscaya “rencana perjalanan”-mu akan lebih masuk akal dan sesuai dengan kondisimu sekarang.

Memilih strategi. Sudah menemukan jalan terbaik untuk mengejar cita-citamu? Sekarang saatnya membuat strategi untuk mengoptimalkan kekuatanmu dan untuk mengalahkan kekuranganmu. Tiga hal penting yang harus diingat saat membuat strategi: feasibility, impact dan waktu.

Feasibility maksudnya adalah “Apakah kamu benar-benar mampu melakukan strategi itu? Apakah kamu memiliki kemampuan yang dibutuhkan, waktu, dukungan dari orang-orang yang memiliki andil dalam hal tersebut, dana, dan lain-lain?” Jika kamu memilih strategi yang tidak feasible, yang terjadi adalah perasaan tertekan karena tidak dapat menjalankannya. Impact, pilihlah strategi yang memberikan hasil yang paling maksimal dengan usaha yang kita buat. Misalnya, bagi seorang manajer pemasaran yang akan memasarkan suatu barang, daripada dia membayar orang untuk menyebarkan brosur di jalan, lebih baik uangnya ia pakai untuk menyewa stand di tempat keramaian. Hal penting terakhir adalah waktu untuk melakukan strategi tersebut. Apakah strategi tersebut harus dilakukan terlebih dahulu atau bisa diletakkan di belakang? Apakah strategi tersebut akan “basi” jika tidak dilakukan sekarang, atau masih akan memberi impact jika dilakukan nanti?

Evaluasi. Hal berikutnya yang harus kamu lakukan adalah mulai menjalankan strategi yang sudah kamu miliki. Setelah selang beberapa waktu, kamu harus berhenti dan mengevaluasi proses pengejaran cita-cita yang sudah kamu lakukan. Lihatlah strategi apa yang berhasil, dan mana yang tidak. Lihat juga penghalang mana yang sudah berhasil ditaklukkan dan belum, serta apa alasan yang membuatnya menjadi seperti itu. Lihat juga kekuatan yang kamu miliki, apakah sudah dipakai dengan optimal, belum optimal, atau justru sudah mulai kelelahan? Semua jawaban dari evaluasi ini dapat dipakai untuk memperbaiki dan mempertajam strategi yang kamu punya.

Bagaimana? Sudah siap membuat rencana dalam mengejar cita-cita? Kamu juga bisa menuliskan cita-cita dan strategimu di bagian comment dan Ruang Psikologi akan mencoba memberi masukan bagi rencanamu sejauh ini. Selamat mengejar cita-cita!

Page 7 of 45